Halaman

Translate

Rabu, 13 Maret 2013

Chinese War Strategy Expert


Beberapa ahli strategi perang Tiongkok:

1. Sun Tzu


Penulis buku The Art Of War, lahir dari kerajaan Qi, pada masa dinasti Zhou, nama aslinya Sun Wu. Sun Wu sendiri menamakan dirinya Chang Qing, Lebih dikenal dengan nama Sun Tzu, karena gelar Tzu yang diberikan bagi orang yang dihormati. Sun Tzu dijuluki Guru Militer dari Tiongkok. Dialah ahli militer terkenal pertama dalam sejarah Tiongkok. Semasa hidupnya, Sun Wu lebih senang hidup menyendiri di daerah pegunungan. Setelah menulis bukunya, dia dipanggil oleh Raja He Lu dari kerajaan Wu, untuk menguji ilmu perangnya.Diangkat menjadi Panglima Perang Kerajaan Wu, Tahun 506 SM , Sun Wu memimpin 5 ekspedisi untuk menyerang negara Chu yang menganggap negara Wu sebagai jajahannya dan berhasil menaklukan kerajaan Chu yang jauh lebih besar dari kerajaan Wu, selama hampir 20 tahun berhasil mengalahkan negara-negara tetangganya yaitu Qi, Qin dan Ye.  Sepeninggalan Sun Wu, keberhasilannya tidak diikuti oleh penerusnya, bahkan kerajaan Wu punah tahun 472 SM.


2. Sun Bin

Sun Bin juga merupakan salah satu keturunan dari Sun Tzu, arsip bukunya ditemukan tahun 1972, kemudian menjadi terkenal. Walaupun masih lebih terkenal Sun Tzu, semasa hidupnya Sun Bin mempunyai musuh bebuyutan bernama Pang Juan. Dulu Sun Bin dan Pang Juan adalah sahabat seperguruan, Pang Juan pergi lebih dulu karena ingin mengabdikan dirinya di kerajaan Wei. Diam-diam Pang Juan iri terhadap kepandaian Sun Bin. Suatu waktu, Sun Bin terjebak oleh Pang Juan, Sun Bin tak mengira sahabatnya bisa berbuat keji terhadapnya, Sun Bin disiksa, disuruh mengaku berkhianat, tempurung lututnya dicabut, wajahnya dicap dengan tulisan pengkhianat, Sun Bin dipenjara dan semasa di penjara Sun Bin berpura-pura menjadi gila dimasukkan kandang babi, Pang Juan pun tidak percaya dan mengujinya, Sun Bin terpaksa makan kotoran babi dengan gembira, Sun Bin mengakui bahwa makanan yang disuguhkannya itu enak. Sun Bin berusaha untuk melarikan diri dan berhasil, ketika di jalan bertemu dengan utusan negara Qi, disanalah dia berlindung dan merencanakan pembalasannya. Suatu hari pasukan Wei dibawah pimpinan Pang Juan bergerak menyerang Qi, pasukan Qi berpura-pura kalah dan mundur, supaya percaya, mereka meninggalkan beberapa gerobak dan peralatan perangnya, pada saat Pang Juan dan pasukannya mulai memasuki daerah Qi yang sempit dan terjal, Sun Bin menyuruh beberapa anak buahnya untuk bersiap-siap memanah, Pada malam hari Pang Juan tiba di suatu daerah yang pohonnya sudah ditulis oleh perintah Sun Bin dengan tulisan "Pang Juan mati disini", Sewaktu Pang Juan dan anak buahnya membacanya dengan menggunakan obor di waktu malam hari yang gelap, terkejutlah Pang Juan dan berbalik untuk pulang. Terlambat sudah, anak buahnya sudah banyak yang mati terpanah oleh pasukan Qi yang bersembunyi di sekitar hutan. Pasukan Pang Juan terkepung dan tak bisa meloloskan diri. Pang Juan tidak berdaya dan memilih untuk menyembelih lehernya sendiri dari pada bertemu dengan Sun Bin. Setelah bertahun-tahun menahan derita baru kali ini Sun Bin dapat tersenyum, karena jebakannya berhasil. Itulah riwayat Sun Bin yang menyedihkan.

3. Zhuge Liang

Zhuge Liang lahir di daerah Yangdu (Shantung), yatim piatu sejak kecil ikut dengan pamannya di provinsi Jing yang waktu itu dikuasai oleh Liu Biao. Setelah pamannya meninggal juga, mereka bersaudara pindah ke Wolonggang ( daerah Henan). Hidup bertani dan sederhana. Atas usulan Xun Yu, Liu Bei datang ke tempat Zhuge Liang dan ingin Zhuge Liang menjadi penasihatnya. Xun Yu tadinya juga penasihat Liu Bei, namun terpaksa pindah mengabdi kepada Cao-cao setelah ibunya ditawan oleh Cao-cao. Selama mengabdi kepada Cao-cao, Xun Yu lebih banyak diam dan tidak banyak memberikan usul. Atas bantuan Xun Yu, Liu Bei beroleh beberapa kali kemenangan. Zhuge Liang memang sahabat Xun Yu. Zhuge Liang sering kali dipanggil Kung Ming, juga dijuluki Wulong. Temannya menjuluki dia Naga yang sedang Tidur. Menemui Zhuge Liang, Liu Bei harus menunggu tiga kali. Melihat Liu Bei sabar dan rendah hati, Zhuge Liang mau berbagi ilmu dengan Liu Bei. Ketika itu Liu Bei pesimis pasukannya bisa memenangkan pertempuran dengan Cao-cao. Zhuge Liang memaparkan rencananya kepada Liu Bei agar bekerja sama dulu dengan Sun Quan untuk mengalahkan Cao-Cao. Lalu merebut Jingzhou yang strategis dan Yizhou yang subur juga strategis karena jaraknya jauh tapi tanahnya subur yang ketika itu dikuasai oleh Liu Zhang. Tak berapa lama Zhuge Liang bergabung, pasukan Cao-Cao sudah siap menyerang, Tak ada pilihan , Liu Bei harus mengungsi ke selatan, ke daerah Sun Quan. Saat menyebrangi sungai , Pasukan Cao-Cao siap menyerbu Sun Quan dan Liu Bei, dengan taktik fitnah, Jendral yang paling berpengalaman dalam perang laut malah dihukum mati oleh Cao-Cao. Atas usulan Pang Tong, Cao-Cao merantai semua kapalnya agar pasukannya tidak mabuk laut, di sanalah terjadi pertempuran Tebing Merah, Pasukan Cao-Cao di panah api dan ditabrak perahu-perahu yang diisi mesiu. 1 juta pasukan Cao-Cao bisa kalah hanya dengan sekitar 250 ribu pasukan Sun Quan. Akibat pertempuran ini, pasukan Cao-Cao yang bisa kembali hanya puluhan orang. Cao-Cao harus kembali membangun daerahnya dengan kerugian yang banyak, Liu Bei mendapatkan daerah JingZhou yang strategis sesuai dengan keinginan Zhuge Liang. Sayang sekali , Guan Yu yang diperintahkan untuk menjaga JingZhou tidak bisa mempertahankannya ketika Liu Bei dan Zhuge Liang mengadakan ekspedisi ke Barat untuk menguasai Yizhou. Yizhou bisa dikuasai oleh Liu Bei dengan bantuan Pang Tong yang sengaja mengorbankan dirinya untuk kemenangan Liu Bei. Liu Bei marah atas kematian Guan Yu dan menyerang Sun Quan. Liu Bei kalah telak dengan korban pasukannya yang besar karena tidak mengerti strategi perang. Akhirnya pimpinan pasukannya diberikan kepada Zhuge Liang. Zhuge Liang berusaha mengadakan ekspedisi ke selatan agar bisa menambah kekuatan pasukannya dan menstabilkan daerah selatan. Lalu ekspedisi ke utara juga menyerang kedudukan Cao-Cao sampai sembilan kali tapi semuanya gagal karena pasukan Cao-Cao sudah membangun benteng dan persiapan yang baik, tidak mau terpancing taktik Zhuge Liang dan banyak berlindung di Benteng dan yang paling parah adalah karena hasutan kasim yang menjaga Liu Shan mengatakan bahwa Zhuge Liang akan berkhianat pada kerajaannya. Semenjak adanya Sima Yi di kubu Cao-Cao, Zhuge Liang kesulitan untuk memenangkan pertempuran. Ialah saingan yang handal untuk Zhuge Liang. Terakhir Zhuge Liang menjebak Sima Yi untuk menyerang gudang padi saat perang, taktik itu berhasil. Gudang itu diisi dengan gandum dan makanan yang kualitasnya rendah, dicampur dengan mesiu. Saat Sima Yi masuk ke jebakan itu, mulailah diluncurkan panah-panah api. Tapi tak lama kemudian hujan tiba-tiba turun. Saat itulah Zhuge Liang mulai berputus asa. Untuk menjebak Sima Yi itu bukan hal yang mudah. Umur Zhuge Liang hanya 54 tahun. Terakhir dia berpesan untuk waspada terhadap Jendral Wei Yan. Penerusnya Jendral Jiang Wei yang dinilainya lebih cerdik daripada jendral lainnya ternyata tidak bisa menolong kerajaan Shu Han.

4. Sima Yi

Sejak kekalahan Cao-Cao di Pertempuran Tebing Merah (Chin Bi), beliau sering berdiskusi dengan anak buahnya, Cao-Cao baru menilai Sima Yi sebagai orang berbakat setelah mendengarkan ulasannya. Cao-Cao sebenarnya sudah tau kepandaian Sima Yi sewaktu membaca tulisannya di ujian negara, namun sengaja memberikan posisi yang kurang sesuai dengan kepandaiannya. Untuk selanjutnya, Cao-Cao lebih mengandalkan Sima Yi, apalagi ketika menghadapi Zhuge Liang. Sima Yi tidak mau terpancing oleh taktik Zhuge Liang. Ia lebih banyak berdiam di Benteng dan menyerang selagi ada kesempatan. Oleh karena itu Zhuge Liang kesulitan dalam menghadapi Sima Yi, banyak taktiknya yang terbaca oleh Sima Yi, walaupun tertipu Zhuge Liang selalu gagal untuk menghabisinya. dan selalu saja lolos. Sima Yi percaya dinasti Han sudah menghadapi kehancurannya. Oleh karena itu dia mengabdi pada Cao-Cao, namun ada juga sikap saling curiga antara Sima Yi dan Cao-Cao. Cao-Cao curiga Sima Yi bisa jadi jendral besar bahkan menyingkirkan keturunannya. Nama dan kharismanya Sima Yi semakin besar karena hanya dialah yang bisa menangkal serangan dan taktik dari Zhuge Liang. Waktu Cao-Cao sakit dan menyadari hidupnya tinggal sebentar lagi, Ia menitip pesan pada penerusnya Cao Pi, agar selalu mengandalkan Sima Yi kalau ingin mempertahankan negaranya tapi jangan beri jabatan penting pada Sima Yi, karena dia bisa menyingkirkan penerus Cao-Cao. Selanjutnya Cao Pi menggantikan Cao-Cao, karena Cao Pi ingin mempunyai nama besar seperti Sima Yi, Ia sendiri yang memimpin ekspedisi. Sebelumnya Cao Pi ingin mendengarkan saran dari Sima Yi, namun saran Sima Yi tidak banyak membantu, bahkan Cao Pi menderita kekalahan yang besar. Tak lama kemudian Cao Pi meninggal dan digantikan oleh anaknya Cao Rui. Selama pemerintahan Cao Rui dibantu oleh paman, saudara-saudaranya dan Sima Yi. Selama pemerintahan Cao Rui menetapkan hukum pidana dan administrasi negara dikenal sebagai Wei lu atau Xin lu. Cao Rui wafat tanpa putra mahkota, maka diangkatlah Cao Fang dibawah bimbingan Sima Yi. Sejak saat itu pengaruh keluarga Sima Yi makin besar. Sima Shi, putra tertua Sima Yi menurunkan Cao Fang dan mengangkat Cao Mao. Sima Zhao, putra Sima Yi yang lain, membunuh Cao Mao dan mengangkat Cao Huan. Pada tahun 264, Sima Zhao memerintahkan Jendral Zhong Hui dan Jendral Deng Ai untuk menyerang kerajaan Shu. Jiang Wei sebagai andalan kerajaan Shu hendak menipu menyerah tapi gagal. Akhirnya Kaisar Liu Shan menyerah dan diperlakukan dengan baik oleh musuhnya. Liu Shan dibawa ke ibukota Wei dan diberi gelar bangsawan. Semenjak itu , Sima Zhao diangkat jadi Xiangguo ( jabatan setara dengan perdana menteri) dan diberi gelar bangsawan. Tak lama kemudian Sima Zhao wafat dan digantikan oleh putranya, Sima Yan. Sima Yan memaksa Cao Huan menyerahkan singgasananya. Dengan demikian tamatlah kekuasaan keluarga Cao. Peristiwa ini terjadi tahun 265. Sima Yan mengangkat dirinya menjadi Kaisar dan menamai dinasti barunya sebagai dinasti Jin dengan ibukota Luoyang. Kerajaan Wu pun ditaklukan pada tahun 280 sehingga Tiongkok menjadi satu lagi.

4. Cao-Cao

Lahir sekitar tahun 155 di Anhui, keluarganya memang adalah keturunan Bangsawan. Pada masa akhir dinasti Han, menjadi tokoh sentral bersama dengan Liu Bei dan Sun Quan. Cao-Cao adalah pemimpin yang brilian, jenius militer. Soal organisasi dan administrasi kerajaan, beliau memang pandai. Meletakkan dasar-dasar negara yang akan ditiru oleh generasi selanjutnya. Lebih dikenal dengan panggilan Meng Te, Cao Meng Te. Sebagai pemimpin yang berhasil menawan Kaisar Han yang terakhir, dan mengangkat dirinya sebagai Perdana Menteri. Cao-Cao juga dikecam sebagai tiran yang keji dan tanpa ampun. Ayahnya , Cao Song adalah anak angkat dari Cao Teng. Cao Teng adalah seorang kasim favorit dari Kaisar Han terdahulu. Sejak remaja Cao-Cao dikenal sebagai orang yang licik. Pada usia 20 sudah diangkat jadi kapten penjaga keamanan di daerah Luoyang. Waktu pemberontakan Turban Kuning dipanggil pemerintah untuk ikut menekan pemberontakan itu di Ying Cuan. Pernah diajak untuk memberontak terhadap Kaisar oleh Wang Fen tapi menolak. Akhirnya Wang Fen ketahuan memberontak dan bunuh diri. Sewaktu pemerintahan Dong Zhuo, Cao-Cao hampir ketahuan ketika hendak membunuhnya, sehingga dia dinyatakan buron. Di suatu daerah, Cao-Cao tertangkap dan diberikan kepada pejabat di daerah tersebut bernama Chen Gong. Ternyata Chen Gong bersimpati pada Cao-Cao. Dia membebaskannya dan ikut lari bersama Cao-Cao. Di perjalanan Cao-Cao minta ijin menginap di tempat paman angkatnya. Paman angkatnya tersebut menyambut kedatangan Cao-Cao namun saat istirahat, Chen Gong mendengar kasak kusuk sehingga membangunkan Cao-Cao yang sedang tidur nyenyak. Cao Cao langsung bangun dan ikut mendengar dan mengintip apa yang dilakukan orang-orang diluar kamarnya itu. Cao-Cao langsung mengambil kesimpulan bahwa orang-orang tersebut hendak membunuhnya. Cao-Cao langsung bertindak membunuh mereka semua. Setelah mereka semua terbunuh, Cao-Cao dan Chen Gong baru menyadari bahwa yang hendak mereka lakukan adalah menyembelih babi. Saat lari keluar, Cao-Cao pun berpapasan dengan Paman Angkatnya tapi langsung membunuhnya. Chen Gong terkejut akan perbuatan Cao-Cao tersebut. Tidur Cao-Cao pun pulas, seolah-olah Cao-Cao tidak merasa bersalah atas perbuatannya itu. Semenjak itu Chen Gong berbalik memusuhinya. Kelak dia akan membantu Lu Bu tapi Lu Bu juga tertangkap. Karena terus menerus memarahi dan memusuhi Cao-Cao maka Cao-Cao juga memberikan hukuman mati kepadanya. Selanjutnya Cao-Cao memang menjadi pemimpin militer yang berhasil. Yuan Shao yang mempunyai tentara yang banyak tapi tidak terlatih. Ketika Yuan Shao menyerang, Cao-Cao berhasil menumpasnya. Demikian juga para pemimpin lain yang lebih kecil seperti Gongsun Zan juga ditumpasnya. Tiongkok Utara memang milik Cao-Cao. Ke selatan Cao Cao juga menyerang Liu Biao dan Yuan Shu. Namun ketika menyeberangi sungai untuk menyerang Liu Bei dan Sun Quan, Cao-Cao kena muslihat dari Pang Tong. Cao-Cao menderita kerugian yang besar. Cao-Cao bisa kembali lagi ke tempatnya atas jasa Guan Yu. Cao-Cao dan Guan Yu memang mempunyai hubungan yang istimewa. Sewaktu menyerang ke utara, Guan Yu memang tidak diserang Cao-Cao. bahkan Cao-Cao memperlakukan Guan Yu seperti tamu agungnya. Hal ini disebabkan karena kekaguman Cao-Cao pada Guan Yu yang berhasil memenangkan duel dengan Hua Xiong, algojo Dong Zhuo yang berhasil mengalahkan banyak anak buah Cao-Cao dan Yuan Shao. Namun Cao-Cao gagal membujuk Guan Yu untuk ikut serta bergabung dengannya. Kedudukan Cao-Cao di tempatnya memang sudah kuat. Musuh-musuhnya tak mudah mengalahkannnya apalagi dengan adanya Sima Yi di pihaknya. Sepulang gagalnya penyerangan selatan , Cao-Cao pulang ke Luoyang, mendapatkan berita duka mengenai kematian Guan Yu oleh Lu Meng dari pihak Sun Quan. Cao-Cao dikirimi kepala Guan Yu tanpa badannya. Cao-Cao amat berduka dengan kejadian ini. Guan Yu lah yang menyelamatkan nyawanya dengan membiarkannya pulang ke daerahnya. Kepala Guan Yu dikuburkan di luar kota Luoyang dengan upacara yang besar. Cao-Cao menderita sakit pusing berat dikepalanya. Oleh karena itu dia memanggil dewa tabib bernama Hua Tuo, menurut Hua Tuo kepala Cao-Cao harus dioperasi dengan membuka batok kepalanya. Cao-Cao kaget atas saran Hua Tuo. Hua Tuo dihukumnya. Karena sudah terlalu tua Hua Tuo akhirnya meninggal di penjara walaupun di penjara Hua Tuo tidak disiksa. Tak lama penyakit Cao-Cao kambuh. Cao-Cao sempat memberi saran dan pesan terakhir kepada penerusnya Cao Pi untuk waspada terhadap Sima Yi tetapi tetap mengandalkan Sima Yi sebab cuma dia yang bisa mempertahankan negaranya. Tanggal 15 Maret 220, Cao Cao mangkat.


Tidak ada komentar: